Rabu, 03 Juni 2026

Aksi Budaya di Sidakkal: Saat Tradisi Jawa Tak Lagi Jadi 'Tontonan Kuno', Tapi Magnet yang Memikat Hati!

Aksi Budaya di Sidakkal: Seni Tradisi Jawa Tak Lagi Jadi 'Tontonan Kuno', Tapi Magnet yang Memikat Hati!

PADANGSIDIMPUAN – Kelurahan Sidakkal mendadak menjadi pusat perhatian. Bukan karena agenda seremonial biasa, melainkan karena ledakan energi budaya yang fenomenal. Perpaduan harmonis antara Seni Tari Jawa, Seni Jaran Kepang yang magis, dan tabuhan Seni Musik Gamelan dari Sanggar Langen Budi Utomo serta Sanggar Tri Laras, berhasil menyulap suasana syukuran warga menjadi pertunjukan budaya yang berkesan.

Aksi Nyata Merawat Marwah Budaya

Acara syukuran putri dari Bapak Hendry menjadi saksi bagaimana kesenian tradisional tetap memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu. Hendry, selaku tuan rumah, menegaskan bahwa keputusannya menghadirkan kesenian ini adalah bentuk tanggung jawab moral.

"Kesenian ini adalah warisan leluhur kita. Bukan sekadar tontonan, tapi identitas. Saya ingin memastikan anak cucu kita tetap mengenal akar budayanya sendiri. Dengan melibatkan kesenian dalam setiap acara, kita sedang menjaga nyawa budaya agar tetap ada dari zaman ke zaman," ungkap Hendry penuh bangga.

Kesaksian Warga: "Ini Baru Hiburan yang Mengobati Rindu"

Antusiasme warga Sidakkal terlihat nyata dari padatnya lokasi acara. Pak Habil, salah satu tokoh masyarakat setempat, mengaku sangat terkesan dengan suguhan yang ditampilkan.

"Jujur, sudah lama kami tidak melihat pertunjukan sehidup ini di Sidakkal. Melihat Jaran Kepang dan mendengar gamelan dimainkan secara langsung itu benar-benar mengobati kerinduan. Terima kasih kepada sanggar dan paguyuban yang sudah mau datang. Ini menjadi hiburan yang edukatif bagi anak-anak muda kita agar tidak lupa pada budayanya," ujar Pak Habil dengan antusias.

Apresiasi dan Masa Depan Kebudayaan

Apriyadi Syahputra, pengurus Sanggar Langen Budi Utomo, tak mampu menyembunyikan rasa senangnya atas kehangatan masyarakat Sidakkal. Menurutnya, kesanggupan masyarakat seperti Hendry untuk menjadi "penggerak budaya" adalah napas bagi para seniman dan usaha kreatif masyarakat (UKM).

Momentum ini semakin terasa sakral karena bertepatan dengan Hari Kelahiran Pancasila. Wahyu Diyono, S.Pd, Gr., selaku Pengurus Utama Organisasi Paguyuban DPD Krida Manunggal Budaya Sumut Padangsidimpuan yang juga sekaligus Ketua Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan, melihat fenomena ini sebagai sinyal positif bagi masa depan kebudayaan di Padangsidimpuan.

"Melihat antusiasme masyarakat yang luar biasa hari ini, kami di Organisasi Paguyuban Krida Manunggal Budaya Sumatra Utara Padangsidimpuan semakin mantap untuk merumuskan agenda kebudayaan yang lebih berkelanjutan. Sidakkal telah membuktikan bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, tapi juga pengikat persatuan di masa kini dan masa mendatang. Semangat kebersamaan yang kita saksikan hari ini adalah ruh sesungguhnya dari Pancasila," tutup Wahyu Diyono.

Pertunjukan di Kelurahan Sidakkal ini sukses dan mampu membuktikan bahwa ketika masyarakat, seniman, dan organisasi bersatu, kebudayaan tradisional akan tetap jaya dan relevan menghadapi tantangan zaman.


Detik Budaya

Ledakan Budaya di Sidakkal: Saat Tradisi Jawa Tak Lagi Jadi 'Tontonan Kuno', Tapi Magnet yang Memikat Hati!

Jumat, 29 Mei 2026

Harapan Masyarakat untuk Menjadikan Sanggar Seni Salah Satu Program Unggulan Daerah

Harapan Masyarakat untuk Menjadikan Sanggar Seni Salah Satu Program Unggulan Daerah

PADANGSIDIMPUAN – Upaya pelestarian seni tradisional di Kota Padangsidimpuan mendapat suntikan energi baru. Jum'at Sore, sebuah pertunjukan seni kolaboratif yang mempertemukan Sanggar Seni Langen Budi Utomo dan Sanggar Tri Laras Padangsidimpuan mampu menyedot perhatian warga di Lingkungan IV, Kelurahan Sitamiang Baru, Jumat (29/05/2026).

Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan biasa, melainkan cerminan kuatnya komitmen komunitas dalam menjaga marwah budaya lokal. Para penampil yang terdiri dari maestro dan pemain senior menunjukkan kepiawaian mereka dalam seni tari Jaran Kepang dan iringan gamelan klasik yang autentik.

Pertunjukan ini mendapat dukungan penuh dari tokoh kepemudaan setempat, Bapak Naza Siregar. Kehadiran sosok yang dikenal dekat dengan masyarakat ini memberikan dorongan moral penting bagi gerakan pelestarian budaya di tingkat akar rumput.

Saat ditemui di sela-sela acara, Naza Siregar menyatakan bahwa keterlibatan pemuda dalam menjaga tradisi adalah sebuah keharusan.

"Kehadiran saya di sini adalah bentuk dukungan konkret bagi para seniman kita. Saya sangat bangga melihat semangat para pemain senior yang tetap konsisten melestarikan seni tari, seni Jaran Kepang dan seni musik gamelan. Bagi saya, menjaga budaya adalah menjaga identitas. Pemuda harus menjadi garda terdepan untuk memastikan warisan leluhur ini tidak punah dimakan zaman," ujar Naza Siregar dengan penuh semangat.

Dukungan serupa juga ditegaskan oleh DPD Krida Manunggal Budaya (KMB) Sumut Padangsidimpuan yang turut hadir guna memastikan kolaborasi antarsanggar ini berjalan sesuai dengan pakem tradisi.

Melihat antusiasme warga yang menonton di lokasi, tokoh masyarakat setempat memberikan apresiasi tinggi kepada para seniman. Meski begitu, para pegiat seni menyoroti tantangan besar yang dihadapi sanggar-sanggar seni saat ini di tengah gempuran arus modernisasi.

Dalam pandangan para penggerak budaya di lokasi, sanggar seni saat ini membutuhkan kebijakan kebijakan yang lebih konkret. Penggiat seni berharap agar pemerintah daerah dan dinas terkait menjadikan pembinaan sanggar-sanggar seni sebagai salah satu program unggulan daerah. "Ujar salah satu penggerak dilapangan".

"Pertunjukan kesenian tradisional adalah jati diri bangsa. Hari ini kita buktikan bahwa masyarakat masih sangat haus akan seni budaya. Oleh karena itu, kita sangat mengharapkan dukungan dari pemerintah, baik itu dalam bentuk dukungan pendanaan, sarana prasarana, maupun ruang tampil yang berkelanjutan," ujar perwakilan organisasi KMB yaitu Wahyu Diyono di lokasi acara.

Lebih lanjut, pihak penggerak seni menyampaikan bahwa pengembangan sanggar seni bukan sekadar pelestarian fisik alat musik atau tarian semata, melainkan upaya strategis untuk membangun karakter generasi muda. Jika dikelola secara profesional dan disinergikan dengan sektor pariwisata, seni tradisional di Padangsidimpuan diyakini mampu menjadi magnet bagi wisatawan sekaligus aset berharga daerah untuk mengembangkan usaha kreatif masyarakat (UKM).

Pantauan Jum'at sore berakhir dengan hangat, meninggalkan kesan mendalam bagi para penonton. Keberhasilan kolaborasi di Sitamiang Baru diharapkan menjadi prototipe bagi wilayah lain di Padangsidimpuan dalam mengelola dan memuliakan warisan leluhur di masa depan.

Detik Budaya

Padangsidimpuan